Profesor Muradi Tak Takut Dites DNA, Pihak Era Setyowati Langsung Tantang Buktikan

  • Entertainment |
  • 09 April 2021 21:54
Profesor Muradi Tak Takut Dites DNA, Pihak Era Setyowati Langsung Tantang Buktikan

Profesor Muradi Tak Takut Dites DNA, Pihak Era Setyowati Langsung Tantang Buktikan

Helo.id - Melalui kuasa hukumnya, Era Setyowati langsung menyambut pernyataan pihak Profesor Muradi, yang memang menantang untuk tes DNA. Razman Arif Nasution selaku kuasa hukum Era Setyowati, langsung tak gentar dengan tantangan tes DNA dan rencana melapor ke polisi oleh pihak Profesor Muradi. Mereka juga menantikan waktu itu tiba, agar identitas bayi delapan bulan itu terbukti.

"Saya tunggu Prof M kapan Anda mau lapor polisi, supaya cepat diproses dan dites DNA. Tes DNA yang menentukan," ungkap Razman Arif Nasution dalam jumpa pers di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (7/4/2021).

Lebih lanjut, Razman menampik Era Setyowati meminta uang sebesar Rp 2 miliar. Satu-satunya tujuan Sierra adalah meminta pertanggung jawaban Profesor Muradi. 

Sebelumnya, Melalui kuasa hukumnya, Profesor Muradi dengan senang hati melakukan tes DNA untuk mengetahui identitas anak dari model Era Setyowati. 

Lebih lanjut, Profesor Muradi, mengakui bahwa dirinya tak takut dengan tuduhan wanita yang akrab disapa Sierra itu. Bahkan, dia ingin kebenaran terungkap.

"Iya dong (siap) agar peristiwa ini menjadi terang dan jelas" terang kuasa hukum Muradi, Patrice Rio Capella ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (6/4/2021).

Patrice justru merasa bingung dengan kedatangan Sierra ke KPAI sebelumnya. Seharusnya kata dia, Miss Lanscape 2019 itu melakukan tes DNA lebih dulu sebelum mengadu.

"Kenapa nggak di DNA dulu baru kemudian ke KPAI. Jadi bukan ke KPAI kemudian menantang tes DNA. Menurut saya itu terbalik. Harusnya DNA aja dulu lalu bicarakan dengan klien kami. Kalau klien kami tidak mau maka baru kemudian dibawa ke KPAI," ujar dia.

Dan yang dirasa lebih mengejutkan lagi, Profesor Muradi mengklaim sudah mengajak Sierra melakukan tes DNA sejak hamil empat bulan tapi ditolak. Ini berbeda dengan pengakuan Sierra, yang berlawanan.

"Ketika usia kandungan 4 bulan justru ketika klien kami meminta tes DNA saudara ES malah menolak," ujar Donny Tri menimpali.

"Tapi kalau sekarang mereka mau ya kita sungguh bersyukur," katanya lagi.


Sebelumnya, Miss Landscape 2019 ini, melalui pengacaranya, yaitu Razman Arif Nasution, menantang Prof M untuk melakukan tes DNA jika meragukan bayi Era Setyowati, sebagai anaknya. Pihaknya berani bertanggung jawab apabila hasil tes DNA menunjukkan bos BUMN bukan ayah biologis anak dari wanita yang akrab disapa Sierra itu.

"Jadi kalau Prof M merasa ragu dengan Galia tes DNA saja. Kalau memang terbukti bukan anaknya kita bertanggung jawab kan ada risikonya," kata Razman usai mengadu di KPAI di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (5/4/2021).

Razman sendiri enggan menyebutkan nama laki-laki yang diketahui bos BUMN dan guru besar di salah satu kampus terkenal di Bandung tersebut. Pasalnya mereka masih mengupayakan cara kekeluargaan dengan bantuan KPAI agar nafkah sang anak terpenuhi. Pasalnya, Sierra juga mengaku telah menikah secara siri dengan sang Profesor.

"Saya kan nggak sebut nih M ini siapa, komisaris yang mana. Tapi dia orang terkenal, orang top juga, sering masuk televisi juga pengamat politik juga," ucapnya.

"Saya sudah ingatkan dia punya nama besar. Jangan smpai Era membludak emosinya, jadi saya minta selesaikan ini Prof M agar anda aman nyaman, saya masih toleransi ke sini (KPAI)," kata Razman menambahkan.

Tetapi jika sang petinggi BUMN ini tidak menunjukkan etikat baik, mereka tak segan melapor ke polisi.

"Nanti setelah ini kami ke komisi perempuan, kemudian masuk ke Polda kalau dia tidak merespons ini. Kalau saya bawa ke polisi atau datang ke kampusnya dengan bayi kan rusak namanya," terang Razman.

Sementara ketika ditanya apakah tuntutan nafkah anak Sierra akan diterima dengan bermodal nikah siri, Razman sudah menyiapkan bukti-bukti kuat. Diduga kuat, sosok Prof M adalah Inisal yang merujuk pada sosok Prof Muradi.








Komentar