•   July 6
Viral

Tak Hanya Jalani Proses Hukum, Kini Pelaku Dibalik Kasus Novia Terancam Dipecat

( words)

Tak Hanya Jalani Proses Hukum, Kini Pelaku Dibalik Kasus Novia Terancam Dipecat

Helo.id - Tak hanya menjalani proses hukum, karena mengaborsi kandungan kekasihnya, Bripda RB juga dikenakan sanksi etik. Anggota Polres Pasuruan itu terancam sanksi pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) atau dipecat dari Polri. Wakapolda Jatim Brigjen Pol Slamet Hadi Supraptoyo mengatakan Bripda RB juga diproses secara internal. 

Karena anggota Polres Kabupaten Pasuruan itu dinilai melanggar Peraturan Kapolri (Perkap) nomor 14 tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Kepolisian.

"Secara internal kami melaksanakan ketentuan Perkap nomor 14 tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Kepolisian. Kami jerat dengan pasal 7 dan pasal 11, itu secara internal," ujar Slamet saat jumpa pers di Mapolres Mojokerto, Jalan Gajah Mada, Kecamatan Mojosari, Sabtu (4/12/2021).

Perlu diketahui pasal 7 mengatur etika kelembagaan anggota Polri, sedangkan pasal 11 tentang etika kepribadian anggota polisi.

"Untuk kode etik (sanksi) paling berat PTDH. Kami tidak pandang bulu, kami terapkan pasal-pasal ini terhadap siapa pun anggota yang melakukan pelanggaran," ucap Slamet.

Bripda RB menjalin hubungan asmara dengan NWR (23), mahasiswi asal Kecamatan Sooko, Mojokerto sejak Oktober 2019. Anggota Polres Pasuruan itu ternyata pernah menggugurkan kandungan kekasihnya menggunakan obat Cytotec. Akibat perbuatannya, Bripda RB bakal dijerat dengan pasal 348 KUHP tentang Aborsi juncto pasal 55 KUHP. Hukuman 5 tahun penjara sudah menantinya.

Sedangkan nasib kekasihnya, NWR berakhir tragis. Gadis berusia 23 tahun itu ditemukan warga dalam kondisi tewas di sebelah makam ayahnya di Makam Islam Sugihan, Desa Japan, Kecamatan Sooko, Mojokerto, Kamis (2/12) sekitar pukul 15.30 WIB. Mahasiswi Universitas Brawijaya Malang ini nekat mengakhiri hidupnya dengan menenggak racun jenis potasium yang dicampur teh. Polisi menemukan sisa racun dalam sebuah botol plastik di sebelah mayat korban.

Diberitakan seblumnya, tentang kisah pilu seorang wanita mahasiswi yang ditemukan meninggal dunia pada 2 Desember 2021 di samping makan sang ayah bikin heboh. Mahasiswi yang diketahui bernama Novia Widyasari Rahayu warga Desa Japan, Kecamatan Sooko, Mojokerto. Dia berusia 23 tahun dan mahasiswi dari Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur.

Kisah Pilu Novia Widyasari Rahayu meninggal dunia bunuh diri dengan meminum racun ketika berziarah ke makam ayahnya sekitar pukul 15.30 WIB. Kapolsek Sooko AKP Sohibul yakin menjelaskan, korban diduga depresii usai ayahnya meninggal dunia sejak 3 bulan lalu.

Kisah Pilu Novia Widyasari Rahayu terbongkar bahwa sebelum mengakhiri hidupnya, korban sering curhat pada sebuah aplikasi. Menurut ceritanya, dia diperkosa oleh sang pacar R hingga hamil namun demikian dia disuruh menggugurkan kandungan tersebut.

Korban (NW) tidak terima dan melaporkan hal ini kepada orang tua sang pacar, namun respon yang diberikan membuat dia kecewa. Diketahui, orang tua sang pacar berasal dari keluarga berada dan menuduh orban ingin meminta ganti rugi. Selain itu , mereka juga menyeebut bahwa ini adalah masalah pribadi korban.

Tak hanya tekanan dari keluarga sang pacar, beberapa paman dari korban menyepelekan masalah keponakannya ini dan seakan membentengi keluarga pacar ponakannya. Menurut informasi, korban bukan bunuh diri karena sang ayah melainkan karena psikis dan mentalnya yang telah dihancurkan. Hal tersebut membuat korban nekat mengakhiri hidupnya sendiri.

Novia Widyasari Rahayu sendiri sudah mencoba untuk melaporkan hal ini kepada polisi, namun tak ada kemajuan karena keluarga pacarnya adalah orang yang memiliki kekuasaan. Isi curhatan pilunya sontak menjadi ramai diperbincangkan hingga muncul tagar #SAVENOVIAWIDYASARI yang trending di Twitter.

Sebelum meninggal dunia, dia juga sempat menulis pesan di sebuah notes yang dia unggah, korban mengatakan tidak sanggup lagi menjalani kehidupannya. Diketahui bahwa pesan itu ditunjukan kepada ibundanya. 

Perlu diketahui, jika pelecehan seksual adalah perilaku pendekatan-pendekatan yang terkait dengan seks yang tak diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal ataupun fisik merujuk pada seks. Pelecehan seksual dapat terjadi di mana saja baik tempat umum seperti bis, pasar, sekolah, kantor, maupun di tempat pribadi seperti rumah.

Dalam kejadian pelecehan seksual biasanya terdiri dari 10 persen kata-kata pelecehan, 10 persen intonasi yang menunjukkan pelecehan, dan 80 persen non verbal. Walaupun secara umum wanita sering mendapat sorotan sebagai korban pelecehan seksual, namun pelecehan seksual dapat menimpa siapa saja. Korban pelecehan seksual bisa jadi adalah laki-laki ataupun perempuan. 

Korban bisa jadi adalah lawan jenis dari pelaku pelecehan ataupun berjenis kelamin yang sama. Pelaku pelecehan seksual bisa siapa saja terlepas dari jenis kelamin, umur, pendidikan, nilai-nilai budaya, nilai-nilai agama, warga negara, latar belakang, maupun status sosial.

Korban dari perilaku pelecehan sosial dianjurkan untuk mencatat setiap insiden termasuk identitas pelaku, lokasi, waktu, tempat, saksi dan perilaku yang dilakukan yang dianggap tidak menyenangkan. Serta melaporkannya ke pihak yang berwenang.

Saksi bisa jadi seseorang yang mendengar atau melihat kejadian ataupun seseorang yang diinformasikan akan kejadian saat hal tersebut terjadi. Korban juga dianjurkan untuk menunjukkan sikap ketidak-senangan akan perilaku pelecehan.

Jika diluar sana ada yang mengalami pelecehan, yang dapat dilakukan adalah segera melapor pada pihak berwenang dengan menyertakan bukti, mengingat proses pelaporan membutuhkan waktu hal terdekat atau tercepat yang dilakukan adalah mencari pertolongan orang terdekat bila perlu tegur dengan lantang. 

TAG : Viral

Artikel Menarik Lainnya

Komentar