•   December 9
Viral

Terungkap! Ternyata Ini Alasan Rektor Belum Nonaktifkan Dosen, Terduga Pelecehan Terhadap Mahasisiwi

( words)

Terungkap! Ternyata Ini Alasan Rektor Belum Nonaktifkan Dosen, Terduga Pelecehan Terhadap Mahasisiwi

Helo.id - Meski sudah ditetapkan sebagai tersangka, namun hingga hari ini Syafri Harto masih menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau, meski yang bersangkutan telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan pelecehan seksual terhadap oknum mahasiswi.

Meski banyak desakan dari berbagai kalangan namun pihak kampus bersikukuh tidak akan mencopot atau menonaktifkan Syafri Harto dari jabatannya karena harus berpedoman terhadap beberapa peraturan pemerintah. Apalagi sang dekan tidak ditahan.

Rektor Unri melalui Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan Unri, Sujianto mengatakan, pihak kampus tidak bisa menonaktifkan jabatan Syafri Harto karena ada beberapa peraturan pemerintah yang harus dipedomani.

"Sehubungan dengan adanya isu atau dorongan untuk penonaktifkan SH, rektor sepenuhnya mengacu pada PP nomor 94 tahun 2021 tentang Disiplin PNS dan PP nomor 11 tahun 2017 tentang Manajemen PNS," ujar Sujianto, Selasa (23/11/2021).

Selain itu, selaku PNS juga mematuhi Permenrisekdikti nomor 81 tahun 2017 tentang Statuta Unri yang mengacu pada instrumen yuridis.

"Jadi kita berpedoman pada peraturan, ini adalah pedoman sebagai ASN, jadi pihak kampus tidak bisa semena-mena melakukan penonaktifkan kepada SH," sambungnya.

Namun ia juga menjelaskan, SH bisa dinonaktifkan apabila yang bersangkutan dilakukan penahanan oleh pihak kepolisian.

"Namun kalau SH ditahan, maka sesuai Pasal 81 kalau seseorang ASN bisa diberhentikan sementara apabila dilakukan penahanan. Nah apabila SH ditahan maka pihak kampus bisa mengambil keputusan, namun karena tidak ditahan, tidak bisa pihak kampus mengambil keputusan untuk menonaktifkan SH," ucapnya.

"Jadi kami tidak bisa semata-mata begitu terjadi langsung kami nonaktifkan, kita harus mengacu pada peraturan, itu sudah jelas dan ada prosedurnya," tuturnya.

Pihak Rektor juga sepenuhnya menghormati proses penegakan hukum yang dilakukan oleh Polda Riau sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Diberitakan sebelumnya, tentang civitas akademika Universitas Riau gempar setelah seorang mahasiswi membuat pengakuan mendapat pelecehan seksual ketika bimbingan proposal skripsi. Video ini beredar luas melalui pesan Whatsapp setelah diunggah oleh akun Instagram @komahi_ur.

Dalam video berdurasi 13 menit 26 detik itu, mahasiswi tersebut mengaku mengambil jurusan Hubungan Internasional Universitas Riau angkatan 2018. Wajahnya memang tak jelas karena disamarkan oleh akun tersebut. Video ini berjudul 'SEXUAL IN HI FISIP" tersebut. Akun instagram @komahi_ur mengunggah videonya pada Kamis siang, 4 November 2021.

Tak tanggung-tanggung, mahasiswi ini menyebut terduga pelaku pelecehan seksual merupakan seorang dekan inisial S. Belakangan diketahui menjabat dekan di Fisipo Universitas Riau. Dalam pengakuannya, mahasiswi ini mengaku mendapat pelecehan seksual terjadi pada Rabu, 27 Oktober 2021. Lokasinya berada di sebuah ruangan di kampus saat melakukan proposal bimbingan skripsi.

Sementara itu, S beberapa kali ditelepon tidak menjawab meskipun ada tanda panggilan masuk. Dua nomor teleponnya yang diperoleh wartawan tidak memberikan jawaban. Begitu juga dengan upaya konfirmasi melalui pesan di Whatsapp. Pesan konfirmasi ke dua nomor Whatsapp tidak mendapatkan jawaban meskipun status S di layar telepon sedang online. Kembali ke video, mengawali postingannya, akun @komahi_ur menuliskan narasi pengantarnya:

"Baru beberapa hari setelah Permendikbud nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi ditetapkan, salah seorang teman kami justru dilecehkan secara seksual. Kejadian ini membuat kami marah, geram dan harus mendampingi korban/penyintas, seorang Mahasiswi jurusan Hubungan Internasional Fisip UNRI," tulis akun @komahi_ur.

Video ini, lanjutnya, berisikan pengakuan langsung dari korban, kronologi kejadian, identitas pelaku dan perlakuan yang diterima korban usai kejadian.

"Identitas dari korban harus kami rahasiakan demi kepentingan keamanan korban. Saat ini, korban masih merasa trauma secara mental dan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak," tulis akun tersebut.

"Biarkan dunia menyaksikan dan mendengar, tindak pelecehan seksual di lingkungan kampus sangatlah nyata!"lanjutnya.

Korban mengaku perbuatan tak senonoh itu terjadi pada pukul 12.30 WIB. Saat itu, korban menghadap dekan dalam rangka bimbingan proposal skripsi. Saat itu, hanya mereka berdua di ruangan. Mengawali proses bimbingan, kata korban, dosen S malah bertanya bukan seputar proposal skripsi, namun terkait kehidupan pribadi. Bahkan si dosen, katanya, mengucapkan 'i love you' kepada korban.

"Ketika saya ingin berpamitan, beliau langsung menggenggam kedua bahu saya, mendekatkan badannya kepada diri saya. Langsung beliau menggengam kepala saya dengan kedua tangannya. Setelah itu dia mencium pipi sebelah kiri saya dan mencium kening saya," ujar korban.

"Saya sangat merasa ketakutan dan saya langsung menundukkan kepala saya. Namun bapak SH (menyebut namanya) segera mendongakkan kepala saya dan dia berkata 'Mana Bibir..? Mana Bibir..?', sambung korban.

Kejadian itu, kata korban, membuat dirinya sangat terasa terhina dan terkejut. 

"Badan saya merasa ketakutan. Namun ketika saya mendorong dan dia mengatakan 'Ya udah kalau tidak mau," lanjut korban.

Korban pun langsung buru-buru meninggalkan ruangan dekan dan meninggalkan kampus dengan keadaan yang sangat bergetar, ketakutan, sangat merasa dilecehkan. 

 
 

TAG : Viral

Artikel Menarik Lainnya

Komentar